Curriculum Elasticity Model: Kurikulum yang Bisa Meregang dan Menyusut
Kurikulum sering dirancang sebagai struktur yang rapi dan tetap. Namun, realitas pembelajaran di kelas justru sebaliknya—dinamis, tidak seragam, dan sangat dipengaruhi oleh konteks mahasiswa, ritme belajar, serta kompleksitas materi. Ada kelas yang membutuhkan pendalaman lebih lama karena konsepnya menantang. Ada pula yang justru mampu bergerak lebih cepat karena kesiapan mahasiswa tinggi. Ketika kurikulum terlalu kaku, dosen terjebak antara mengejar target silabus atau mengorbankan kualitas pemahaman. Curriculum Elasticity Model (CEM) hadir untuk menjawab ketegangan tersebut dengan menghadirkan kurikulum yang elastis—mampu meregang dan menyusut secara terkontrol tanpa kehilangan standar akademik.
🌐 Apa Itu Curriculum Elasticity Model?
Curriculum Elasticity Model adalah kerangka perancangan kurikulum yang membedakan antara inti yang harus tetap dan bagian yang boleh lentur.
Dalam CEM:
-
kompetensi inti dan capaian pembelajaran lulusan tetap bersifat wajib,
-
tetapi unit pembelajaran, kedalaman materi, dan alokasi waktu bersifat fleksibel,
-
struktur kurikulum dirancang agar dapat menyesuaikan konteks kelas nyata.
Model ini memungkinkan satu mata kuliah:
-
memperdalam topik tertentu yang dianggap krusial,
-
mempercepat atau memadatkan bagian yang relatif mudah,
-
menyesuaikan ritme tanpa mengorbankan tujuan akhir pembelajaran.
Dengan demikian, kurikulum tidak lagi diperlakukan sebagai jadwal kaku, melainkan sebagai kerangka hidup yang mendukung proses belajar.
Mengapa Kurikulum Perlu Elastis?
Pendekatan kurikulum seragam berangkat dari asumsi bahwa semua kelas:
-
memiliki kesiapan yang sama,
-
belajar dengan kecepatan yang sama,
-
menghadapi tingkat kesulitan yang sama.
Dalam praktiknya, asumsi tersebut jarang terpenuhi.
Curriculum Elasticity Model mengakui bahwa:
-
kualitas pembelajaran tidak ditentukan oleh kecepatan menyelesaikan silabus,
-
tetapi oleh ketepatan kedalaman dan ritme sesuai kebutuhan mahasiswa.
Elastisitas yang terkontrol justru menjaga mutu pembelajaran agar tidak terjebak pada formalitas administrasi.
🔍 Fun Fact
Kurikulum yang fleksibel tetapi berkerangka jelas sering menghasilkan pembelajaran yang lebih konsisten kualitasnya dibanding kurikulum kaku yang dipaksakan sama di semua kelas.
Manfaat Curriculum Elasticity Model
1. Kurikulum Lebih Responsif
Dosen dapat merespons dinamika kelas tanpa rasa bersalah melanggar silabus.
2. Menghargai Keberagaman Ritme Belajar
Mahasiswa tidak dipaksa mengikuti kecepatan ideal yang sering kali tidak realistis.
3. Peningkatan Kualitas Pemahaman
Pendalaman dilakukan saat dibutuhkan, bukan dibatasi oleh waktu semata.
4. Mengurangi Pembelajaran Seragam yang Tidak Efektif
Setiap kelas diperlakukan sebagai ekosistem belajar yang unik, bukan replika mekanis.
🏁 Kesimpulan
Curriculum Elasticity Model menggeser cara pandang terhadap kurikulum—dari dokumen pembatas menjadi alat bantu belajar yang adaptif. Dengan kurikulum yang mampu meregang dan menyusut secara terencana, pembelajaran tidak lagi sekadar mengejar ketuntasan, tetapi berfokus pada ketepatan, kedalaman, dan kebermaknaan proses belajar.
Admin